Fiqh Islam · Manhaj

Mari Mengenal Bid’ah


scan

Mari Mengenal Bid’ah 1)

Penyusun: Ummu Hafidz
Muroja’ah: Ust. Abu Muslih

——————————————————————————————————————-

Banyak orang yang berkerut keningnya ketika pertama kali mendengar kata ini. Bermacam reaksi muncul dari seseorang ketika diingatkan tentang masalah ini. Ada yang menerimanya dan memperbaiki amalan ibadahnya dengan hidayah taufik dari Allah Ta’ala. Ada pula yang terlalu cepat menutup diri untuk memahaminya sehingga lebih sering berkata, “Ah… bisanya cuma membid’ah-bid’ahkan.” Adapula yang memang sudah tidak asing dengan kata ini, tapi ternyata memiliki pemahaman yang salah dalam memaknainya. Ketahuilah saudaraku! Pembahasan tentang bid’ah bukanlah milik golongan tertentu. Bahkan setiap muslim harus mempelajarinya dan mewaspadainya dan tidak menutup diri dari pembahasan ini. Karena Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

و شرّ الأمور محدثاتها، و كلَّ محدثة بدعة

“Dan seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang diada-adakan adalah bid’ah.” (HR. Muslim no. 867)

Dan sabda nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,

قإنّ كلَّ محدثة بدعة و كلّ بدعة ضلالة

“Karena setiap perkara yang baru (yang diada-adakan) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Sama seperti pembahasan tentang kata sunnah pada artikel yang lalu, maka sungguh pembahasan ini sangat (sangat) penting, karena jika tidak memahaminya atau bahkan salah memaknainya, maka dapat mengakibatkan kesalahan dalam beramal dan beribadah. Semoga Allah memberikan kelapangan dalam dada-dada kita, untuk menerima kebenaran yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam.

Makna Bid’ah Secara Bahasa

Makna bid’ah secara bahasa adalah mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Penggunaan kata bi’dah secara bahasa ini di antaranya ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قُلْ مَا كُنتُ بِدْعاً مِّنْ الرُّسُلِ

“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (Al Ahqaf : 9)

Dan juga firman-Nya,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

“Dialah Allah Pencipta langit dan bumi.” (Al-Baqoroh [2]: 117)

Makna Bid’ah Secara Istilah

Berdasarkan definisi yang diberikan oleh Imam Syathibi, makna bid’ah secara istilah adalah suatu cara baru dalam agama yang menandingi syari’at dimana tujuan dibuatnya adalah untuk membuat nilai lebih dalam beribadah kepada Allah.

Dari definisi ini, kita perlu memperjelasnya menjadi beberapa poin.

Pertama, ’suatu cara baru dalam agama’. Hal ini berarti cara atau jalan baru tersebut disandarkan kepada agama. Adapun cara baru yang tidak dinisbatkan kepada agama maka itu bukan termasuk bid’ah. (akan dibahas lebih rinci di bawah).

Kedua, ‘menandingi syari’at’. Maksudnya amalan bid’ah mempersyaratkan amalan tertentu yang menyerupai syari’at, sehingga ada beban yang harus dipenuhi. Seperti misalnya puasa mutih, yasinan setiap hari kamis (malam jum’at), puasa nisyfu sya’ban dan lain-lain, Perlu diperhatikan pula bahwa pada umumnya, setiap bid’ah juga memiliki dalil. Namun, janganlah terjebak dengan dalil yang diberikan, karena ada dua kemungkinan dari dalil yang diberikan. Pertama, dalil tersebut bersifat umum namun digunakan dalam amalan khusus. Kedua, bisa jadi dalil yang digunakan adalah palsu. Oleh karena itu, wahai saudariku, menuntut ilmu agama sangat penting melebihi kebutuhan kita terhadap makan dan minum. Ilmu agama dibutuhkan di setiap tarikan nafas kita karena dalil dibutuhkan untuk setiap ibadah yang kita lakukan. Merupakan kesalahan ketika kita melakukan ibadah terlebih dahulu baru mencari-cari dalil. Inilah yang membuat pengambilan dalil tersebut menjadi tidak tepat karena sekedar mencari pembenaran pada amalan yang sebenarnya bukan termasuk syari’at.

Ketiga, ‘tujuan dibuatnya adalah untuk membuat nilai lebih dalam beribadah kepada Allah’. Artinya, setiap bid’ah merupakan tindakan berlebih-lebihan dalam agama, sehingga dengan adanya bid’ah tersebut maka beban seorang muslim (mukallaf) akan bertambah. Salah satu contohnya mengkhususkan puasa nisyfu sya’ban, padahal puasa ini tidak disyari’atkan dalam Islam. Sungguh merugi bukan? Kita berlindung kepada Allah dari segala perbuatan sia-sia.

Mewaspadai Bid’ah

Dari definisi yang telah disebutkan menunjukkan bid’ah tidak lain merupakan perbuatan yang bertujuan menandingi syari’at. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maaidah [5]: 3)

Maka tidak perlu lagi bagi seseorang untuk membuat cara baru dalam agama atau mencari ibadah-ibadah lain yang itu adalah kesia-siaan. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

منْ عمِل عملا ليس عليه اَمرنا فهو ردّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس مِنه فهوردٌّ

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada sumbernya maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits ini, ada tiga unsur yang membuat sesuatu dapat dikatakan sebagai bid’ah.

Pertama, mengada-adakan. Ini diambil dari lafadz man ahdatsa (من أحدث). Akan tetapi membuat sesuatu yang baru bisa terjadi dalam perkara dunia ataupun agama. Maka diperlukan unsur yang kedua.

Kedua, perkara baru tersebut disandarkan pada agama. Ini diambil dari lafadz fii amrina (في أمرنا). Unsur kedua ini perlu dilengkapi unsur ketiga. Karena jika tidak, akan timbul pertanyaan atau keraguan, “Apakah semua perkara baru dalam agama tercela?”

Ketiga, perkara tersebut bukan bagian dari agama. Ini diambil dari lafadz ma laisa minhu (ما ليس مِنه). Artinya, tidak ada dalil yang sah bahwa hal tersebut pernah ada.

Setiap Bid’ah Adalah Sesat

Ketahuilah saudariku. Setiap bid’ah adalah sesat. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,

و شرّ الأمور محدثاتها، و كلَّ محدثة بدعة

“Dan seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang diada-adakan adalah bid’ah.” (HR. Muslim no. 867)

Dan sabda nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,

قإنّ كلَّ محدثة بدعة و كلّ بدعة ضلالة

“Karena setiap perkara yang baru (yang diada-adakan) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Adapun pembagian yang ada pada bid’ah, maka tetap menunjukkan kesesatan bid’ah tersebut. Maka pembagian bid’ah menjadi bid’ah sayyi’ah dan bid’ah hasanah adalah sebuah kesalahan sebagaimana penulis jelaskan sebab-sebabnya dalam artikel sebelumnya.

Imam Syathibi rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya pembagian bid’ah (yang tetap menetapkan kesesatan seluruh bid’ah) yang dapat memperjelas kerancuan yang ada di masyarakat. Yang pertama adalah bid’ah hakiki yang perkaranya lebih jelas (kecuali bagi orang-orang yang taklid dan tidak mau belajar) karena bid’ah hakiki tidak memiliki sandaran dalil syar’i sama sekali. Semisal menentukan kecocokan seeorang untuk menjadi suami atau istri dengan tanggal lahir atau melakukan ritual-ritual khusus dalam acara pernikahan yang tidak ada landasannya dalam syari’at sama sekali. Adapun jika berkaitan dengan bid’ah idhofi maka sebagian orang mulai rancu dan bertanya-tanya. Misalnya, bid’ah dzikir berjama’ah, atau tahlilan. Banyak orang terburu-buru dengan mengatakan, “Masa dzikir dilarang sih?” atau “Kok membaca Al Qur’an dilarang?” Maka kita perlu (sekali lagi) memahami lebih dalam tentang bid’ah ini.

Bid’ah idhofi ini mempunyai dua sisi, sehingga apabila dilihat pada salah satu sisi, maka seakan-akan itu sesuai dengan sunnah karena berdasarkan dalil. Namun bila dilihat dari sisi lain, amalan tersebut bid’ah karena hanya bersandar kepada syubhat, tidak kepada dalil atau tidak disandarkan kepada sesuatu apapun. Adapun bila dilihat dari sisi makna, maka bid’ah idhofi ini secara asal memiliki dalil. Akan tetapi dilihat dari sisi cara, sifat atau perinciannya, maka dalil yang digunakan tidak mendukungnya, padahal tata cara amalan tersebut membutuhkan dalil. (Majalah Al-Furqon edisi 12 tahun V). Maka jelas yang dilarang bukanlah dzikir atau membaca Al-Qur’an untuk contoh dalam masalah ini. Akan tetapi, kebid’ahan tersebut terletak pada tata cara, sifat atau perincian pada ibadah tersebut yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan melafadzkan dzikir bersama-sama dipimpin satu imam atau membaca Al-Qur’an untuk orang mati. Semuanya ini adalah cara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Catatan penting dalam masalah ini adalah dalam perkara ibadah (yaitu apa-apa yang kita niatkan untuk mendekatkan diri kita pada Allah Subhanahu wa Ta’ala), kita harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sesuai dengan yang dicontohkan dan diperintahkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikianlah saudaraku, sedikit pengantar untuk memahami tentang kata bid’ah dan bahayanya. Pembahasan tentang bid’ah memiliki lingkup yang sangat luas – yang dengan keterbatasan penulis – tidak dapat dituangkan seluruhnya dalam tulisan kali ini. Untuk memperdalam pembahasan, silakan melihat kembali kitab-kitab yang penulis jadikan rujukan. Semoga Allah Ta’ala mempermudah kita dalam memahami pembahasan ini dan menerimanya dengan lapang dada serta menjadikan kita orang-orang yang berusaha kuat menjauhi perkara baru dalam agama. Aamiin ya mujibas saailin.

Maraji’:

Majalah Al Furqon edisi 12 tahun V/rajab 1427

Kajian kitab Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad oleh Ustadz Aris Munandar

Ringkasan Al I’tisham – terj –, Syaikh Abdul Qadir As Saqqaf, Media Hidayah, Cet I, thn 2003

 

1) http://muslimah.or.id/2007/05/31/mengenal-kata-bidah/ dengan perubahan judul..

5 thoughts on “Mari Mengenal Bid’ah

  1. Tambahan Penjelasan Dari Akhi Abu Al Jauzaa’ :

    Yuk kembali ke awal pembahasan. Ana akan sedikit mengulang apa itu definisi bid’ah biar lebih clear. Imam Asy-Syathibi (seorang imam Ahlus-Sunnah) telah menulis sebuah kitab tentang pembicaraan mengenai bid’ah ini, yaitu Al-I’tisham. Dari apa yang ana ingat, para ulama menyebut kitab ini sebagai salah satu kitab terbaik dalam pembicaraan mengenai bid’ah. Beliau mendefinisikan bid’ah sebagai (lihat Al-I’tisham juz 1 halaman 15 – hasil donlotan dari http://www.almeskhat.net/books) sebagai :
    عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

    Satu jalan dalam agama yang diciptakan/diada-adakan menyamai syariat yang diniatkan dengan tujuan bersungguh-sungguh/berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala

    Beliau berkata pula di halaman yang sama :
    طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية

    Satu jalan dalam agama yang diciptakan/diada-adakan menyamai syariat yang diniatkan dengan tujuan menempuhnya seperti menempuh jalan syari’at
    Hal ini mirip dengan definisi yang diberikan oleh para imam-imam yang lain seperti Ibnu Rajab Al-Hanbaly, Ibnu Taimiyyah, dan yang lainnya. Definisi itulah yang paling jelas menggambarkan maksud hadits :
    من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ر
    “Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami dari apa yang tidak berasal darinya, maka ia tertolak” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa yang beramal dengan satu amalan yang bukan berasal dari urusan kami, maka ia tertolak” — ana ambil dari Arba’in An-Nawawi nomor 5.
    وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن صحيح

    “Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama). Karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, dimana ia berkata : Hadits hasan shahih. Ana menukil dari Arba’in An-Nawawi hadits nomor 28).

    Dipahami dari hadits dan definisi tersebut, tidak ada ruang untuk istilah Bid’ah Hasanah. Lafadh “Kullu” dalam Ushul-Fiqh adalah nakirah atau umum yang mencakup semua hal. Kecuali ada qarinah yang memalingkan dari keumumannya.

    Semua hal yang dimaksud di sini tentu dalam masalah ta’abbud. Bukan masalah duniawi. Jadi salah jika kita analogkan dengan alasan : mikropon, internet, mobil, dan yang sejenis untuk melegalkan bid’ah-bid’ah dalam agama yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin.

  2. Apakah benar setiap bid’ah itu sesat?? Tidak adakah Bid’ah Hasanah??

    Ya Akhi… Apakah engkau belum pernah dengar sabda Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam berikut :

    وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار

    “Dan setiap hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di neraka”

    Bagaimana menurut antum tentang penambahan adzan pada sholat jum’at menjadi dua kali oleh Sahabat Usman RA??? Apakah itu sesat??

    Mohon penjelasannya. Untuk sementara ini dulu.

    sAlAm kEnAl

    Salam kenal juga…. Tentang masalah adzan ‘Utsman pada Sholat Jum’at adalah Ijtihad dari ‘Utsman yang kemudian disetujui oleh sahabat yang lain sehingga hal ini merupakan Ijma’ Sahabat, maka hal itu bukanlah termasuk bid’ah… perlu diketahui juga bahwa Ijtihad Utsman berupa adzan dua kali pada sholat jum’at ini memiliki ‘illat/sebab yang ketika illat tersebut hilang, maka adzan ini menjadi satu kali sebagaimana adzan pada masa Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam… ada sebuah kaidah yang kurang lebih maknanya ” Hukum itu beredar pada ‘Illatnya, ketika ‘Illatnya hilang maka kembali kepada hukum asalnya.” untuk lebih lengkapnya ana hadirkan penjelasan dari Saudara ana Abu Al Jauzaa’ dari sebuah forum diskusi :

    قال الإمام الزهري رحمه الله تعالى : أخبرني السائب بن يزيد أن الأذان [ الذي ذكره الله في القرآن ] كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر [ وإذا قامت الصلاة ] يوم الجمعة [ على باب المسجد ] في عهد النبي  وأبي بكر وعمر ، فلما كان خلافة عثمان ، وكثر الناس [ وتباعدت المنازل ] أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث ( وفي رواية : الأول ، وفي أخرى : بأذان ثان )
    [ على دار [ له ] في السوق يقال لها : الزوراء ] ، فأذن به على الزوراء [ قبل خروجه ليعلم الناس أن الجمعة قد حضرت ] ، فثبت الأمر على ذلك ، [ فلم يعب الناس ذلك عليه ، وقد عابوا عليه حين أتم الصلاة بمنى ] ))

    Berkata Al-Imam Az-Zuhri rahimahullah : Telah mengkhabarkan kepadaku Saib bin Yazid : “Sesungguhnya adzan [yang diungkapkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an] pada awalnya dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar [dan jika iqamat shalat telah dikumandangkan] pada hari JUm’at [dekat pintu masjid] pada jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Ketika tiba jaman kekhalifahan ‘Utsman, sudah banyak orang [rumah-rumah pun berjauhan]. ‘Utsman memerintahkan untuk dikumandangkan adzan yang ketiga [di dalam satu riwayat : Awal; dan di dalam riwayat lain : Adzan kedua] [di atas rumah (milik beliau) di dalam pasar yang namanya Az-Zauraa’]. Lalu dikumandangkan adzan di Zauraa’ [sebelum beliau keluar untuk memberitahukan orang-orang bahwa waktu (shalat) Jum’at telah tiba]. Maka berlakulah hal itu, [orang-orang tidak menganggap hal itu sebagai aib, padahal mereka mencelanya ketika beliau melakukan shalat secara sempurna di Mina]” (HR. Bukhari 2/314,316,317; Abu Dawud 1/171 dengan redaksi beliau; An-Nasa;I (1/207); Tirmidzi (2/392), dan lainnya. Silakan lihat kitab Al-Ajwibatun-Nafi’ah karya Syaikh Al-Albani).

    Perhatikan kata : [فثبت الأمر على ذلك ، [ فلم يعب الناس ذلك عليه ، وقد عابوا عليه حين أتم الصلاة بمنى ]] “Maka berlakulah hal itu, [orang-orang tidak menganggap hal itu sebagai aib, padahal mereka mencelanya ketika beliau melakukan shalat secara sempurna di Mina]” ; ini menunjukkan bahwa perbuatan adzan ‘Utsman adalah ijma’. Beda halnya dengan shalat tamam/sempurnanya ‘Utsman di Mina dimana banyak orang yang mengingkarinya – sebagaimana disinggung di awal pembahasan. Ana kira pembahasan ini tidak perlu ana ulang.

    Kapan hal itu dilakukan ? Atau dengan kata lain : Dalam kondisi apa hal itu dilakukan ? Jawabnya adalah bagian dari hadits tersebut : [وكثر الناس [ وتباعدت المنازل ]] “sudah banyak orang [rumah-rumah pun berjauhan]”. Dari kalimat ini dapat diketahui alasan ‘Utsman bahwa ketika telah banyak orang dan rumah-rumah berjauhan, maka banyak orang yang tidak mendengar suara adzan (karena pada saat itu tidak ada mokropon). Maka,…. ‘Utsman memerintahkan muadzin adzan di Zauraa’, yaitu satu tempat di pasar, agar orang-orang mendengarnya agar segera menuju masjid. Itu ‘illat haditsnya akhi !!

    Tapi sekarang ketika telah ada jam, ada mikropon, dan jalan/aksesibiltas telah bagus; maka illat tersebut telah hilang. Ketika ‘illat hadits hilang, maka apa yang dimaksudkan hadits pun ditiadakan. Intinya,…. Adzan dua kali atau lebih di jaman sekarang sudah tidak perlu lagi. Orang-orang bisa memperkirakan waktu kapan ia datang ke masjid dan ia bisa mendengar adzan dari mikropon dari kejauhan – walaupun ia berada di tengah ladang. Inilah praktek yang salah di masyarakat kita yang tidak mengerti tentang Sunnah.

    Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata (Al-Umm 1/172-173) :

    وأحب أن يكون الأذان يوم الجمعة حين يدخل الإمام المسجد ويجلس على المنبر ، فإذا فعل أخذ المؤذن في الأذان ، فإذا فرغ قام ، فخطب لا يزيد عليه

    “Aku suka jika adzan pada hari Jum’at dilakukan ketika imam masuk ke masjid dan duduk di atas mimbar, jika seorang imam telah melakukannya (duduk di atas mimbar), maka seorang muadzin mulai mengumandangkan adzan. Lalu jika selesai, maka sang imam berdiri untuk khutbah, tidak lebih dari itu”.

    Nah itu pandangan Imam Asy-Syafi’I rahimahullah dimana beliau berpandangan adzan di hari Jum’at adalah sekali saja (dengan hilangnya ‘illat tentunya). Gimana nih para Syafi’iyyah dalam negeri ? Mbaca Al-Umm gak ya ?

    Abu Al-Jauzaa’ 1428

    Allahu A’lam

  3. lho, akhi ini. kalau memang alasan penambahan adzan pd masa itu seperti itu, bagaimana dgn waktu dzuhur? bukankah pd zaman itu jam jg blm ada, toh adzan gak di tambah2.
    Afwan, masih blm ngerti.

    Kalau antum tanya kepada ana : ” kenapa penambahan adzan hanya untuk sholat jum’at bukan untuk sholat dzuhur atau selainnya, maka ana jawab : ” Laa adri… Ana tidak tahu.” karena hal itu adalah ijtihad dari Utsman

  4. hmmm,,, kalo gitu,, kenapa baru pada masa khalifah utsman ra terjadi penambahan adzan,,??? emang pada saat jaman Rasulullah saw/khalifah sebelum Utsman ra tidak terdapat hal2 seperti alasan2 yg antum sebutkan sehingga khalifah Utsman ra menambahkan jumlah adzan,,???

    Ana Ulangi penjelasan Imam Az-Zuhri Rahimahullah… tolong simak dengan baik :

    قال الإمام الزهري رحمه الله تعالى : أخبرني السائب بن يزيد أن الأذان [ الذي ذكره الله في القرآن ] كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر [ وإذا قامت الصلاة ] يوم الجمعة [ على باب المسجد ] في عهد النبي  وأبي بكر وعمر ، فلما كان خلافة عثمان ، وكثر الناس [ وتباعدت المنازل ] أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث ( وفي رواية : الأول ، وفي أخرى : بأذان ثان )
    [ على دار [ له ] في السوق يقال لها : الزوراء ] ، فأذن به على الزوراء [ قبل خروجه ليعلم الناس أن الجمعة قد حضرت ] ، فثبت الأمر على ذلك ، [ فلم يعب الناس ذلك عليه ، وقد عابوا عليه حين أتم الصلاة بمنى ] ))

    Berkata Al-Imam Az-Zuhri rahimahullah : Telah mengkhabarkan kepadaku Saib bin Yazid : “Sesungguhnya adzan [yang diungkapkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an] pada awalnya dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar [dan jika iqamat shalat telah dikumandangkan] pada hari JUm’at [dekat pintu masjid] pada jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Ketika tiba jaman kekhalifahan ‘Utsman, sudah banyak orang [rumah-rumah pun berjauhan]. ‘Utsman memerintahkan untuk dikumandangkan adzan yang ketiga [di dalam satu riwayat : Awal; dan di dalam riwayat lain : Adzan kedua] [di atas rumah (milik beliau) di dalam pasar yang namanya Az-Zauraa’]. Lalu dikumandangkan adzan di Zauraa’ [sebelum beliau keluar untuk memberitahukan orang-orang bahwa waktu (shalat) Jum’at telah tiba]. Maka berlakulah hal itu, [orang-orang tidak menganggap hal itu sebagai aib, padahal mereka mencelanya ketika beliau melakukan shalat secara sempurna di Mina]” (HR. Bukhari 2/314,316,317; Abu Dawud 1/171 dengan redaksi beliau; An-Nasa;I (1/207); Tirmidzi (2/392), dan lainnya. Silakan lihat kitab Al-Ajwibatun-Nafi’ah karya Syaikh Al-Albani).

    Silahkan cermati kata-kata yang ana bold… mudah-mudahan antum paham…

  5. Bisakah disebutkan contoh-contoh bid’ah yang antum anggap sesat, dan masuk neraka. terima kasih. salam kenal.

    Sekiranya antum sedikit bersabar dalam membaca artikel diatas, niscaya antum akan dapati jawaban dari pertanyaan antum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s