Fiqh Islam

Seputar Hukum Shalat Dhuha


bookSeputar Hukum Shalat Dhuha

Oleh

Akh Abu Al Jauzaa’

________________________________________________________________
Dalam beberapa buku fiqh ringkas, seringkali kita dapatkan pembahasan mengenai Shalat Dluha dan hukumnya dengan kesimpulan singkat : Sunnah Muakkadah; yang kemudian diikuti dengan dalil dan keutamaan-keutamaannya. Padahal dalam masalah ini para ulama banyak membahasnya dengan bahasan yang komples; dengan konsekuensi adanya khilaf terhadap pemahaman berbagai dalil yang ada. Dalam tulisan kali ini akan disajikan pembahasan khilaf tersebut beserta tarjih dan pemahaman beberapa hadits yang dianggap musykil. Semoga bermanfaat….


Uraian ini akan dimulai dengan hadits yang diambil dari Bulughul-Maram yang menyinggung tentang shalat Dluha.

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: “كَانَ رَسُولُ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعاً، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ الله”. رَوَاهُ مُسْلِمٌ [صحيح. رواه مسلم[ (719) (79(

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Biasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat Dluha 4 raka’at, dan beliau menambahnya sebanyak yang Allah kehendaki” (HR. Muslim nomor 79 dan 719).

Imam Ash-Shan’ani dalam Subulus-Salam Syarah Bulughil-Maram menukil perkataan Ibnul-Qayyim sebagai berikut :

وأما حكمها فقد جمع ابن القيم الأقوال فبلغت ستة أقوال. الأول: أنها سنة مستحبة. الثاني: لا تشرع إلا لسبب. الثالث: لا تستحب أصلاً. الرابع: يستحب فعلها تارة وتركها تارة فلا يواظب عليها. الخامس: يستحب الموظبة عليها في البيوت. السادس: أنها بدعة.

“Adapun mengenai hukum Shalat Dluha, Ibnul-Qayyim telah mengumpulkan beberapa pendapat hingga mencapai 6 (enam) pendapat :

Pertama, bahwa hukumnya termasuk sunnah yang disukai.

Kedua, tidak disyari’atkan kecuali karena adanya sebab.

Ketiga, tidak disukai sama sekali.

Keempat, disukai (mustahab) untuk dikerjakan, tetapi sekali waktu boleh dikerjakan dan sekali waktu boleh untuk ditinggalkan; tidak dikerjakan terus-menerus.

Kelima, shalat Dluha adalah bid’ah”.

Sumber kemusykilan adalah adanya “pertentangan” antara hadits-hadits mengenai shalat Dluha ini. Di bawah ini akan disebutkan diantaranya :

وَلَهُ عَنْهَا: أَنَّها سُئِلَتْ: هَلْ كَانَ رَسُولَ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يُصَلِّي الضُّحَى؟ قَالَتْ: لا. إِلا أنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ. [صحيح. رواه مسلم [(717(

 

Dari ‘Aisyah bahwasannya ia ditanya : “Apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat Dluha ?”. Maka ia menjawab : “Tidak, kecuali apabila beliau pulang dari bepergian”. (HR. Muslim nomor 717).


وَلَهُ عَنْهَا: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يُصَلِّي سُبْحَةَ اَلضُّحَى قَطُّ, وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا [صحيح. رواه مسلم (718)، وتمامه: وإن كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليدع العمل، وهو يحب أن يعمل به، خشية أن يعمل به الناس، فيفرض عليهم. قلت: والحديث أيضا عند البخاري (1128) بتمامه]

Dari ‘Aisyah ia berkata : “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat Dluha dengan tetap. Akan tetapi aku tetap melakukannya (yaitu shalat Dluha)” (HR. Muslim nomor 718)

Dua hadits di atas berisi penafian ‘Aisyah dari pengetahuannya terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau biasa melakukan shalat Dluha. Hadits yang kedua secara lebih tegas menjelaskan bahwa walaupun ‘Aisyah tidak mengetahui bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak melakukan shalat Dluha, namun ia radliyallaahu ‘anha tetap melaksanakannya. Hal ini mengandung pengertian bahwa apa yang dilaksanakan oleh ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha tersebut berasal dari perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Atau setidaknya,…. berasal dari apa yang ia lihat dari beliau.

Al-Baihaqi mengatakan : [المراد بقولها ما رأيته سبحها أي داوم عليها] : “Maksud dari perkataan ‘Aisyah : Aku tidak pernah melihatnya mengerjakannya; yaitu tidak senantiasa melihatnya mengerjakannya”. Ibnu Abdil-Barr mengatakan : [يرجح ما اتفق عليه الشيخان وهو رواية إثباتها دون ما انفرد به مسلم وهي رواية نفيها، قال: وعدم رؤية عائشة لذلك لا يستلزم عدم الوقوع الذي أثبته غيرها هذا معنى كلامه] : “Harus dinilai kuat hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim yang menetapkannya, daripada hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Muslim yang mengingkari Nabi mengerjakannya dengan tetap. Menurutnya, ‘Aisyah tidak melihatnya itu tidaklah berarti bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukannya, karena mungkin dilihat oleh shahabat lain”.

Lalu bagaimana mengkompromikan dua hadits penafian di atas dengan hadits pertama yang berisi penetapan (dan bahkan dipakai dalam bentuk kaana yang maknanya adalah “biasanya” ) yang sama-sama diriwayatkan oleh ‘Aisyah ?

Sebagian ulama menjelaskan bahwasannya lafadh kaana itu dibawa pada pengertian “sering” karena ada qarinah pertentangan dalam perkataan ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha.

Akan tetapi, mungkin ada satu hal yang perlu dicermati, yaitu perbuatan ‘Aisyah yang tetap mengerjakan shalat Dluha (hadits penafian yang kedua) memberikan pemahaman bahwa apa yang dilakukan ‘Aisyah itu memalingkan pengingkaran ‘Aisyah itu sendiri, sekaligus menguatkan pendapat yang menyatakan pengingkaran ‘Aisyah itu diucapkan sejauh pengetahuan akan fi’il Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan fi’il ‘Aisyah yang tetap mengerjakan shalat Dluha itu bermakna “biasanya” atau minimal “sering” (ia melakukan shalat Dluha).

Mari kita cermati beberapa riwayat tentang shalat Dluha dari shahabat lain :

1. Dari Zaid bin Arqam radliyallaahu ‘anhu :

أَنَّ رَسُولَ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم قَالَ: “صَلاةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ”. [صحيح. رواه مسلم (748) وفيه: أن زيد بن أرقم رأى قوما يصلون من الضحى. فقال: أما لقد عملوا أن الصلاة في غير هذه الساعة أفضل. إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الحديث بنصه. ومن الواضح أن عزو الحافظ الحديث للترمذي إنما هو وهم[

Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Shalat Awwabin (shalat orang-orang bertaubat; yaitu shalat Dluha) dilakukan pada waktuanak-anak unta kepanasan” (HR. Muslim)

2. Dari Nu’aim bin Hammar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يقول الله عز وجل يا بن آدم لا تعجزني من أربع ركعات في أول نهارك أكفك آخره

“Allah telah berfirman : Wahai Bani Adam, janganlah engkau merasa tidak mampu melakukan empat raka’at di awal siang untuk diri-Ku, karena Aku akan mencukupkan dengannya untuk sisa akhir waktunya” (HR. Abu Dawud nomor 1289, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/239 dan Al-Irwaa’ 2/216).

3. Dari Buraidah radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

النخاعة في المسجد تدفنها والشيء تنحيه عن الطريق فإن لم تجد فركعتا الضحي تجزئك

“Dahak dalam masjid yang engkau pendam dalam tanah, sesuatu yang engkau singkirkan dari jalan bisa menjadi sedekah. Kalau tidak bisa dilakukan, dapat diganti dengan dua raka’at di waktu Dluha. Itu sudah cukup” (HR. Abu Dawud nomor 5242, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 3/984 dan Al-Irwaa’ 2/213).

4. Dari Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة فكل تسبيحة صدقة وكل تحميدة صدقة وكل تهليلة صدقة وكل تكبيرة صدقة وأمر بالمعروف صدقة ونهي عن المنكر صدقة ويجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى

“Pada setiap pagi, setiap sendi tubuh Bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi munkar juga bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan raka’at yang dilakukan pada waktu Dluha” (HR. Muslim nomor 720).

5. Dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم تامة تامة تامة

“Barangsiapa shalat Shubuh berjama’ah, kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian ia shalat dua raka’at (yaitu shalat Dluha/Isyraq), ia akan memperoleh pahala ibadah haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna” (HR. Tirmidzi nomor 586 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1/181).

6. Dari Buraidah dan Abu Dzar radliyallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يا بن آدم أركع لي من أول النهار أربع ركعات أكفك آخره

“Wahai Bani Adam, lakukanlah shalat empat raka’at di awal siang. Aku akan mencukupkan di akhirnya” (HR. Tirmidzi nomor 475 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1/47 dan Al-Irwaa’ 2/219).

7. Dan lain-lain

Hadits-hadits tersebut di atas menunjukkan secara jelas perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk mengerjakannya Shalat Dluha dan keutamaan-keutamaannya bagi siapa saja yang mengerjakannya. Maka perbuatan ‘Aisyah yang tetap mengerjakan shalat Dluha bukan tidak mungkin berdasarkan hadits-hadits di atas atau yang semakna yang sampai kepadanya. Perbuatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tidak terus-menerus melakukan shalat Dluha sebagaimana diberitakan oleh ‘Aisyah, tentu ini mengandung hikmah bagi kita. Salah satunya adalah agar tidak ada anggapan bahwa shalat ini diwajibkan bagi setiap muslimin.

Pengkhabaran dari para shahabat (termasuk ‘Aisyah) tentang masyru’-nya shalat Dluha tidak bisa diingkari. Penetapan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengandung pengertian untuk melazimkan sunnah ini, walau dalam hal-hal tertentu atau waktu-waktu tertentu kita diperintahkan meninggalkannya sesekali sebagai pengajaran bagi orang yang bodoh agar tidak ada anggapan bahwa shalat Dluha ini merupakan kewajiban.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Syaikh Abdulaziz bin Baaz dalam penjelasannya terhadap kitab Bulughul-Maraam (sebagaimana yang dinukil oleh Dr. Sa’id Al-Qahthani dalam Shalatut-Tathawwu’) : “Kedua hadits shahih ini adalah hujjah yang kuat yang menunjukkan disyari’atkannya shalat Dluha, bahkan hukumnya adalah sunnah muakkad. Karena ketika Nabi mewasiatkan kepada seseorang, berarti itu merupakan wasiat untuk seluruh umatnya, bukan khusus bagi orang itu saja, kecuali bila ada dalil yangmenunjukkan kekhususannya. Demikian juga halnya dengan perintah dan larangan beliau, maka hukumnya adalah umum, kecuali bila ada dalil yang mengkhususkannya. Misalnya ketika Nabi menyatakan : “Ini khusus bagimu saja”. Keberadaan Nabi yang tidak melakukannya secara rutin tidaklah menghilangkan sunnahnya perbuatan itu. Karena terkadang Nabi mengerjakan satu perbuatan untuk menunjukkan bahwa perbuatan itu disyari’atkan. Lalu terkadang beliau meninggalkannya untuk menunjukkan bahwa perbuatan itu tidaklah wajib” (selesai perkataan Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah).

Imam Nawawi rahimahullah mengunggulkan pendapat bahwa shalat Dluha adalah sunnah muakkad (lihat Syarah Shahih Muslim 5/237 dan Fathul-Baari 3/57).

Pendapat di atas juga merupakan kesimpulan pembicaraan Ash-Shan’ani dalam Subulus-Salaam. Silakan merujuk kepadanya karena ada pembahasan yang cukup bagus.

Allaahu a’lam (Abu Al-Jauzaa’ 1428)

Dikutip dari Forum MyQuran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s