Nasehat

Pelajaran Dari Sebuah Bencana dan Musibah


booksPELAJARAN DARI SEBUAH BENCANA DAN MUSIBAH

Oleh

Abu ‘Aisyah Al-Jauzaa’

___________________________________________________________________________________

Pendahuluan

Bencana dan musibah seakan datang silih berganti menerpa negeri kita. Masih segar di ingatan akan bencana tsunami Aceh yang menelan ratusan ribu jiwa. Disusul kemudian dengan berbagai gempa, kecelakaan transportasi, kemarau panjang, banjir, dan yang terbaru : angin puting beliung Yogyakarta. Entah sampai kapan musibah ini akan diangkat, hanya Allah-lah yang Tahu dan Kuasa mencabut semua. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal, tentu kita tidak hanya akan berhenti dan larut dalam duka dan kesedihan. Sudah selayaknya kita selalu mengambil pelajaran (‘ibrah) dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang telah dinampakkan, sebagaimana firman-Nya :

إِنّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لاُوْلِي الأبْصَارِ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati” (QS. Aali ‘Imran : 13).

Mengapa Bencana dan Musibah Menimpa Kita ?

Allah ta’ala telah berfirman :

وَمَآ أَصَابَكُمْ مّن مّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُواْ عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syuuraa : 30).

Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat ini : “Yaitu apa saja musibah-musibah yang menimpa kamu wahai manusia, maka itu hanyalah dari keburukan-keburukan yang telah kalian lakukan. Dan Allah “memaafkan sebagian besar” ; yaitu dari keburukan-keburukan sehingga Dia tidak membalas kamu atas kesalahan-kesalahan itu, bahkan Dia memaafkannya”.

Dr. Muhammad bin Sulaiman Al-Asyqaar berkata dalam Zubdatut-Tafsiir tentang ayat di atas : “Yaitu bahwa musibah-musibah apa saja yang menimpa kalian, maka sesungguhnya (kalian ditimpa musibah itu) sebagai hukuman bagi kalian karena kemaksiatan-kemaksiatan yang dikerjakan tangan-tangan kalian, dan Dia memaafkan sebagian dari kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan oleh para hamba, sehingga tidak dihukum/dibalas”.

Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman :

وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيّئَةٍ فَمِن نّفْسِكَ

“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari dirimu” (QS. An-Nisaa’ : 79).

Jumhur ulama salaf mengatakan : “Dari dirimu dengan sebab dosamu”. Qatadah berkata : “Sebagai hukuman bagimu wahai Anak Adam, disebabkan oleh dosamu”. Abu Shalih berkata : “Yaitu dengan sebab dosamu, dan Aku (Allah) yang mentaqdirkan bencana itu atasmu”. [Lihat atsar-atsar ini dalam Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisaa’ : 79]

Allah telah berfirman dalam dua ayat di atas menggunakan bentuk nakirah (tanpa alif lam) untuk kata musibah (مُصِيْبَةٌ) dan bencana (سَيّئَةٌ) sehingga bermakna umum yang meliputi semua bencana dan musibah yang terjadi di muka bumi. Dan bersamaan dengan itu, Allah ta’ala pun menjelaskan sebab asasi terjadinya bencana dan musibah yaitu karena dosa, maksiat, pelanggaran syari’at Allah, serta penyelisihan Dienullah dan Sunnah Rasul. Kita bisa melihat contoh kongkrit sebagaimana telah disebutkan Allah dalam Al-Qur’an mengenai kisah-kisah umat sebelum kita.

Allah telah menjelaskan sebab kaum Nuh ‘alaihis-salaam ditimpa banjir sebagaimana firman-Nya :

وَقَوْمَ نُوحٍ لّمّا كَذّبُواْ الرّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظّالِمِينَ عَذَاباً أَلِيماً

“Dan (Kami telah membinasakan) kaum Nuh, tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami menenggalamkan mereka, dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan adzab yang pedih bagi orang-orang yang dhalim” (QS. Al-Furqan : 37).

Kaum ‘Aad yang ditimpa angin puting beliung yang keras, dingin, dan lama sehingga membinasakan mereka :

وَتِلْكَ عَادٌ جَحَدُواْ بِآيَاتِ رَبّهِمْ وَعَصَوْاْ رُسُلَهُ وَاتّبَعُوَاْ أَمْرَ كُلّ جَبّارٍ عَنِيدٍ

“Dan itulah (kisah) kaum ‘Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua (penguasa) yang sewenang-wenang lagi menentang kebenaran” (QS. Huud : 59).

Juga kehancuran kaum Nabi Syu’aib yang ditimpa gempa dahsyat :

فَكَذّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرّجْفَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

“Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalau mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka” (QS. Al-Ankabuut : 37).

Dan lain-lain contoh yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Kaum-kaum tersebut diadzab Allah dengan bencana yang membinasakan dikarenakan keingkaran dan sikap mendustakan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Duhai,….. alangkah beruntungnya orang yang bisa mengambil pelajaran ! Apa yang terjadi di negeri ini sehingga bencana dan musibah tak kunjung berhenti ? Sudah barang tentu, dosa dan maksiatlah yang menyebabkan hal ini terjadi. Betapa banyak penduduk negeri ini yang berselimut kesyirikan. Fenomena dukun dan paranormal menyebar dimana-mana. Makam-makam tidak pernah sepi dari orang memohon hajat. Bahkan orang lebih takut terkena bala “penjaga” pohon persimpangan jalan daripada adzab Allah di akhirat, sehingga sesajen kembang dan dupa tidak pernah telat disediakan.

Wallaahi !! ini merupakan syirik akbar. Kemaksiatan yang paling besar dan kedhaliman yang paling dhalim di muka bumi. Allah berfirman :

إِنّ الشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan (mempersekutukan Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang sangat besar” (QS. Luqman : 13).

Tidakkah kita sadar wahai ikhwah muslimin,…… ketika Allah memerintahkan para wanita untuk menutup aurat dengan berjilbab namun kita membiarkan istri, anak, dan saudara kita tidak mengenakannya; berarti kita telah menanamkan “saham” atas sebab bencana di negeri kita ? Atau, ketika Allah mengharamkan riba namun kita asik bermuamalah dengannya; berarti kita telah turut “mempercepat” datangnya musibah dan bencana turun pada diri kita ? Betapa banyak kaum muslimin yang tidak menegakkan shalat, tidak menunaikan zakat, tidak berpuasa di bulan Ramadlan, dan tidak melakukan haji di waktu Allah memberikan kelapangan harta dan kesehatan kepadanya ? Tidak perlu menyalahkan orang lain jikalau sebagian kesalahan itu bersumber pada diri-diri pribadi kita. Al-jazaa’u min jinsil-‘amal (balasan itu tergantung dari jenis amal yang dilakukan) !

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تدركوهن لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعلنوا بها إلا فشا فيهم الطاعون والأوجاع التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مضوا ولم ينقصوا المكيال والميزان إلا أخذوا بالسنين وشدة المئونة وجور السلطان عليهم ولم يمنعوا زكاة أموالهم إلا منعوا المطر من السماء ولولا البهائم لم يمطروا ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله إلا سلط الله عليهم عدوا من غيرهم فأخذوا بعض ما في أيديهم وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيروا مما أنزل الله إلا جعل الله بأسهم بينهم

“Wahai para Muhajirin, ada lima perkara (sebab kehancuran). Jika kalian ditimpa lima perkara tersebut dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya :

1. Jikalau muncul perbuatan keji pada suatu kaum dan mereka melakukan secara terang-terangan, maka akan menyebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada nenek moyang sebelum mereka.

2. Jika mengurangi takaran dan timbangan, maka akan ditimpakan kepada mereka paceklik dan, kesusahan hidup, dan kesewenang-wenangan (kedhaliman) para penguasa atas mereka.

3. Jika mereka menahan zakat harta mereka maka akan ditahan hujan untuk mereka, seandainya bukan karena hewan ternak, niscaya tidak akan turun hujan atas mereka.

4. Jika mereka melanggar perjanjian yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, melainkan Allah akan menguasakan musuh-musuh dari luar kalangan mereka atas mereka, lalu merampas sebagian yang ada di tangan mereka.

5. Selama pemimpin-pemimpin mereka tidak berhukum kepada Kitabullah dan memilih yang terbaik dari yang diturunkan Allah, maka akan Allah jadikan musibah di antara mereka sendiri” (HR. Ibnu Majah nomor 4019 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah nomor 106 dari hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu).

Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam yang lain :

يكونن في هذه الأمة خسف و قذف و مسخ , و ذلك إذا شربوا الخمور و اتخذوا القينات و ضربوا بالمعازف

“Akan ada pada umat ini nanti gempa yang menenggelamkan, hujan yang membinasakan, dan kutukan yang menghinakan. Yang demikian itu terjadi jika mereka telah meminum khamr, mengambil gadis-gadis penghibur, dan memainkan alat-alat musik” (Shahih, dikeluarkan oleh Ibnu Abid-Dunya, lihat Ash-Shahihah nomor 2203).

Adakah di antara hal-hal kemunkaran yang disebutkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di atas belum terjadi di negeri tercinta kita ini ? Sangatlah naïf jika jari telunjuk ini hanya kita tujukan kepada penguasa (misalnya) yang dikatakan tidak menerapkan syari’at Islam. Ini adalah kesalahan komunitas. Kesalahan kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan seterusnya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Jalan Keluar dari Bencana dan Musibah

Allah ta’ala berfirman :

وَلَوْ أَنّ أَهْلَ الْقُرَىَ آمَنُواْ وَاتّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مّنَ السّمَآءِ وَالأرْضِ وَلَـَكِن كَذّبُواْ فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf : 96).

وَلَوْ أَنّهُمْ أَقَامُواْ التّوْرَاةَ وَالإِنْجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيهِمْ مّن رّبّهِمْ لأكَلُواْ مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِم

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” (QS. Al-Ma’idah : 66).

Dua ayat di atas – juga ayat-ayat yang telah disebutkan sebelumnya – telah memberikan jalan keluar dari bencana dan musibah, yaitu :

1. Iman, yaitu iman kepada Allah dan apa yang telah Dia turunkan melalui Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam. Iman ini mencakup ilmu dan amal dari hati dan anggota tubuh. Iman menuntut kita untuk mentauhidkan Allah dalam Rububiyyah, Uluhiyyah, serta Asma’ dan Shifat-Nya Yang Maha Sempurna yang dengan itu menjauhkan kita dari kesyirikan dan kekufuran. Iman juga menuntut kita untuk mengikuti (ittiba’) Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang dengannya kita tinggalkan bid’ah dan kemaksiatan. Dan iman menuntut kita berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan.

2. Taqwa, yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Thalq bin Habib : “Hendaknya engkau melakukan ketaatan kepada Allah di atas sinar dari-Nya karena mengharap pahala-Nya dan meninggalkan maksiat kepada-Nya di atas sinar dari-Nya karena takut hukuman-Nya” (Jami’ul-Ulum wal-Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbaly, penjelasan hadits nomor 18).

3. Taubat, yaitu meminta ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan oleh diri pribadi, keluarga, pemimpin, dan kaum muslimin secara keseluruhan. Allah berfirman :

وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun” (QS. Al-Anfaal : 33).

Penutup

Hendaklah kita selalu bermuhasabah (introspeksi) atas segala hal yang kita lakukan. Maslahat atau mudlarat. Jika maslahat, tentu kita mengharap kepada Allah agar Dia menjadikannya sebagai amal shalih yang berguna bagi kita kelak. Dan sebaliknya, jika mudlarat, maka cepat-cepat kita beristighfar dan menutupnya dengan amal kebaikan agar terhindar dari bencana dan musibah. Janganlah kita merasa aman dari adzab dan makar Allah dengan tidur tenang di peraduan kita. Allah telah berfirman :

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىَ أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ * أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىَ أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ * أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur ? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain ? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga) ? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al-A’raf : 97-99).

Dan ingatlah ikhwah muslimin,…. jikalau Allah telah berkehendak menimpakan bala’ musibah dan bencana pada suatu kaum, maka hal itu tidak hanya menimpa pada orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat saja. Namun seluruh manusia di kaum itu yang dikehendaki Allah sebagaimana firman-Nya :

وَاتّقُواْ فِتْنَةً لاّ تُصِيبَنّ الّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصّةً

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan (fitnah) yang tidak khusus menimpa orang-orang dhalim saja di antara kamu” (QS. Al-Anfaal : 25).

Semoga Allah selalu melindungi kita dari perbuatan kesyirikan, bid’ah, dan maksiat serta dimudahkan untuk menjalankan semua perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya. Amien…..

One thought on “Pelajaran Dari Sebuah Bencana dan Musibah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s