Aqidah

Yang Terlupa Dari Tauhid


YANG TERLUPA DARI TAUHID

oleh

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

—————————————————————————————————————————-

Semua orang yang mengaku muslim, jika ditanya siapa Tuhannya tentu akan menjawab, “Allah.” Umumnya, kebanyakan muslim beranggapan bahwa yang dimaksud Tuhan itu hanyalah sebatas Sang Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta. Jika seperti itu, maka seseorang belum bisa disebut bertauhid secara benar, sebab tauhid seperti itu belum sempurna.

Jika kita lihat dalam Al-Quran dan Sirah Nabi, akan tampak kebenaran pernyataan tersebut. Pada zaman Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam, kaum musyrikin banyak tersesat dalam tauhid uluhiyah. Mereka tahu betul bahwa Allah Azza Wa Jalla pencipta mereka dan pengatur alam semesta, namun ketika disuruh mengesakan Allah Azza Wa Jalla dalam beribadah, mereka menolaknya.

Oleh karena itu, Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam memerangi mereka dan menghalalkan darah, harta, tanah dan kampung halaman mereka, dan menawan istri-istri dan anak-anak karena kesesatan mereka dalam tauhid uluhiyah. Tauhid inilah yang juga sering terlupa dari perhatian kebanyakan umat Islam.

Tak Cukup Satu

Wajib diketahui bahwa tauhid terdiri atas tiga macam. Adapun pembagiannya sebagai berikut :

A. Tauhid Rububiyah, yaitu mengesakan Allah Azza Wa Jalla dalam penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. Allah Azza Wa Jalla berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah pencipta segala sesuatu.” (Az Zumar: 62)

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan dan Dia lah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al Mulk: 1)

أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Mahasuci Allah Tuhan Sernesta Alam.” (Al A’raf: 54)

B. Tauhid Uluhiyah, yaitu mengesakan Allah Azza Wa Jalla dalam beribadah, dengan kata lain agar manusia tidak menyekutukan dengan seorang pun, baik dengan menyembah atau mendekatkan diri sebagaimana ia menyembah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla. Adapun di antara dalilnya adalah firman Allah Azza Wa Jalla:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا

وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 21-22)

Inilah jenis tauhid yang kebanyakan diluruskan oleh para rasul dari kaumnya. Sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang utusan (agar mereka menyeru), ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu.” (An-Nahl : 36)

C. Tauhid Asma wa Sifat, yaitu mengesakan Allah Azza Wa Jalla sesuai dengan nama dan sifat yang Ia sandangkan sendiri kepada diri-Nya dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam, yaitu dengan menetapkan apa yang ditetapkan Allah Azza Wa Jalla dan meniadakan apa yang ditiadakan-Nya dengan tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana), juga tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk).

Untuk itu, andaikata seseorang yang bersaksi secara sempurna terhadap tauhid rububiyah dan asma dan sifat, namun ia pergi ke kuburan dan menyembah orang yang di dalam kubur atau ber-nadzar mempersembahkan sesaji untuknya sebagai bentuk pendekatan diri kepadanya, maka sesungguhnya dia telah syirik dan kafir.

Sebab ibadah menjadi tidak sah kecuali jika ditujukan hanya kepada Allah Azza Wa Jalla semata. Barangsiapa menyimpang dari tauhid uluhiyah, maka dia telah syirik dan kafir, meskipun mengakui tauhid rububiyah dan asma wa sifat.

Bukan Tak Berdasar

Mungkin ada pertanyaan, dari mana pembagian tersebut mengingat dalam Al-Quran dan hadits tidak disebutkan? Hal itu juga tidak didapati pada zaman Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam ataupun sahabat. Tidakkah pernyataan tersebut termasuk suatu perkara baru (muhdats) dan tidak ada dalilnya?

Berikut jawaban Syaikh Al Albani Rahimahullah, “Sesungguhnya pembagian tauhid menjadi tiga ini terkandung dalam banyak surat Al-Quran. Yang paling tampak dan paling jelas adalah dalam dua surat, yaitu Al Fatihah dan An Naas, dimana keduanya adalah pembuka dan penutup Al-Quran.”

Oleh karena itu firman-Nya ‘Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin’ mengandung pengukuhan ke-rububiyah-an Allah Azza Wa Jalla terhadap seluruh makhluk-Nya. Dan firman-Nya ‘Arrahmaanirrahiim-Maaliki yaumiddiin’ mengandung pengukuhan terhadap sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi dan nama-nama-Nya Yang Mahamulia. sedangkan firman-Nya ‘Iyyaaka na’budu wa iyaaka nasta’iin’ mengandung pengukuhan ke-ubudiyah-an seluruh makhluk kepada-Nya dan ke-uluhiyah-an Allah Azza Wa Jalla atas mereka.

Walaupun terbagi menjadi 3 bagian, tauhid merupakan satu kesatuan dan punya hubungan yang sangat kuat satu sama lain. Sebab, tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah dan tauhid rububiyah mengharuskan adanya tauhid uluhiyah. Demikian pula tauhid asma dan sifat mengandung tauhid rububiyah, karena sifat Allah Azza Wa Jalla itu ada yang berupa sifat dzat (diri) dan ada yang berupa sifat perbuatan.

Oleh sebab itu, jika pembaca sekalian masih seperti kebanyakan muslim yang sebatas mentauhidkan Allah Azza Wa Jalla sebagai pencipta saja, sudah saatnya mengkaji kembali dan memahami apa-apa yang terlupa/ketinggalan dari tauhid. Sebab tauhid merupakan modal utama keselamatan seorang hamba. (nida)


Sumber :

As-Sunnah, edisi 14/tahun ke-2

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penjelasan Kitab Tiga Landasan Utama. Cet. Ke-3, Darul Haq, Jakarta, 2000.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s