Nasehat

Kembalilah kepada Para Ulama..!!


Berhati-Hati Dari Individualis Dengan Tidak Kembali Kepada Para Ulama

Oleh

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali Al Yamani Al Wushobi Al Abdali


Subhanallah..!! Adalah merupakan suatu bentuk penampilan yang keji dan busuk ketika penuntut ilmu menyandarkan fatwanya atau selain fatwa pada dirinya dengan tanpa merujuk kepada para ulama. Bermusyawarah dan bertanyalah kepada para ulama !

Dia mengetahui sedikit ilmu lalu melihat dirinya bagaikan Ibnu Hajar kedua, atau Ibnu Taimiyah dizamannya, atau Imam Adz Dzahabi dan terkadang dia memandang pengetahuan Syaikhnya sangat terbatas.

Kita berlindung kepada Allah Azza Wa Jalla dari tipu daya syaithon dan kita berlindung kepada Allah Azza Wa Jalla dari kedholiman dan kesombongan. Lihat kepada gurumu yang telah memiliki andil keutamaan terhadap dirimu setelah Allah. Namun dia dihadapanmu bagaikan Ibnu Lahi’ah atau tadlis Rusydin bin Sa’ad sedangkan kamu bagaikan Imam Ali Al Madini. Penampilan ini termasuk penyakit yang terkadang terjadi pada sebagian orang. Dan ini bukan datang dari dirinya sendiri pada hakikatnya, akan tetapi syaithonlah yang telah menjatuhkan dan menjerumuskannya kedalam tipu daya ini.

Apabila dia memahami satu bidang ilmu, dia menghina dan meremehkan orang lain bahkan merendahkan Syaikhnya sendiri.

Adapun merendahkan temannya jangan ditanyakan lagi, dia menganggap orang lain kecil dan bagaikan kartun-kartun, kecuali orang yang dirahmati Allah Azza Wa Jalla

Apakah demikian ini penampilan ilmu ? apakah ini buah dari ilmu yang kamu kejar ? kamu mengetahui satu permasalahan ilmu lalu kamu melihat orang lain bagaikan semut kecil. Takutlah dirimu kepada Allah Azza Wa Jalla. Pada hakikatnya ketika ilmu seorang mukmin bertambah, bertambah pula tawadhu’nya. Dan ketika ilmumu, imanmu, kebaikanmu, keistiqomahanmu dan keuletanmu berpegang terhadap kebenaran, disaat itu pula kamu menemukan dirimu semakin kecil.

Ketika Syaikh Ibnu Baaz berfatwa kepada manusia sebelum wafatnya pada tahun lalu di Makkah dan saya waktu itu berada bersama beliau, datanglah sebuah pertanyaan dalam selembar kertas yang bunyinya : “Wahai Syaikh, saya termasuk dari salah satu penduduk Makkah dan saya memiliki sebuah rumah yang saya tidak menduga tiba-tiba sekelompok lebah masuk kedalamnya dan menetap dirumahku. Sedangkan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Apakah saya harus mengusirnya, padahal dia ditanah haram sedangkan barangsiapa yang memasuki tanah haram akan aman, atau apa yang harus saya perbuat ? beritahukan kepada kami, semoga Allah Azza Wa Jalla membalasmu dengan yang lebih baik.”

Saya ( Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab-pent) sangat memperhatikan beliau kira-kira apa yang akan dijawabnya. Pertanyaan seperti ini diajukan kepada pimpinan ulama, tiba-tiba beliau menyatakan :”Permasalahan ini perlu dibahas, bawalah pengeras suara itu kesini.”

Lihatlah betapa tawadhu’nya beliau, itulah hakikat ilmu, hal ini menggambarkan tatkala seseorang lanjut usia semakin banyak ilmunya.

Oleh karena itu berhati-hatilah kamu wahai saudaraku hidup menyendiri tanpa ulama, ketahuilah ini termasuk penyakit. Saya yakin seorang yang menyendiri dan menyandarkan segala-galanya kepada dirinya, niscaya ia akan sesat dan menjadi orang awam. Dikecualikan kalau dia benar-benar memperhatikan waktunya. Mengetahui keutamaan orang yang berilmu, kembali kepada mereka, bertanya, dan bermusyawarah dengan mereka.

———–

Disalin dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah“

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s