Manhaj

Pernyataan Aimmah untuk mengikuti Sunnah


PERNYATAAN PARA IMAM UNTUK MENGIKUTI SUNNAH

Muqoddimah Sifat Sholat Nabi Syaikh Albani Rahimahullah

A. Imam Abu Hanifah Rahimahullah

إذا صح الحد يث فهو مذهبي

“Jika suatu hadits Shahih, itulah madzhabku.” 1)

لا يحل لأحد أ ن يأ خذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذ نا ه

“Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.” 2)

Pada riwayat lain dikatakan bahwa beliau mengatakan : “Orang yang tidak mengetahui dalilku, haram baginya menggunakan pendapatku untuk memberikan fatwa.” Pada riwayat lain ditambahkan : “Kami hanyalah seorang manusia. Hari ini kami berpendapat demikian tetapi besok kami mencabutnya.” Pada riwayat lain lagi dikatakan : “Wahai Ya’qub (Abu Yusuf), celakalah kamu ! Janganlah kamu tulis semua yang kamu dengar dariku. Hari ini saya berpendapat demikian, tapi hari esok saya meninggalkannya. Besok saya berpendapat demikian, tapi hari berikutnya saya meninggalkannya.” 3)

إذا قلت قولا يخا لف كتا ب الله تعالى وخبر الرسوصلى الله عليه وسلم فا تركوا قولي

“Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam, tinggalkanlah pendapat itu.” 4)

B. Imam Malik bin Anas Rahimahullah

“Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, ambillah dan bila tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah.” 5)

“Siapapun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam sendiri.” 6)

Ibnu Wahhab berkata : “Saya pernah mendengar Malik menjawab pertanyaan orang tentang menyela-nyela jari-jari kaki dalam wudhu, jawabnya : ‘Hal itu bukan urusan manusia’ Ibnu Wahhab berkata : “Lalu saya tinggalkan beliau sampai orang-orang yang mengelilinginya tinggal sedikit, kemudian saya berkata kepadanya : ‘Kita mempunyai hadits mengeai hal tersebut.’ Dia bertanya : ‘ Bagaimana hadits itu ? Saya jawab : “Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah, ‘Amr bin Harits, meriwayatkan kepada kami dari Yazid bin ‘Amr Al-Mu’afiri dari Abi ‘Abdurrahman al-Hanbali dari Mustaurid bin Syaddad Al-Qurasyiyyi, ujarnya : Saya melihat Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam menggosok-gosokkan jari manisnya pada celah-celah jari-jari kakinya.’ Malik menyahut : Hadits ini hasan; saya tidak mendengar ini sama sekali, kecuali kali ini.’ Kemudian dilain waktu saya mendengar dia ditanya orang tentang hal yang sama, lalu beliau menyuruh orang itu untuk menyela-nyela jari-jari kakinya. 7)

C. Imam Syafi’i Rahimahullah

“Setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam itulah yang menjadi pendapatku. 8]

“Seluruh Kaum muslim telah sepakat bahwa orang yang secara jelas mengetahui suatu hadits dari Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang.” 9)

“Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan Hadits Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam, peganglah hadits Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu.” 10)

“Bila suatu hadits Shahih, itulah Madzhabku.” 11)

“Kalian 12) lebih tahu tentang Hadits, dan para perawinya daripada aku. Apabila suatu hadits itu Shahih, beritahukanlah kepadaku biar dimanapun orangnya, apakah di Kuffah, Bashrah atau Syam, sampai aku pergi menemuinya.”

“Bila suatu masalah ada haditsnya yang sah dari Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam menurut kalangan ahlul hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati.”13)

“Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi hadits Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam yang shahih, ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna.” 14)

“Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam, hadits Nabi lebih utama dan kalian jangan bertaqlid kepadaku.” 15)

“Setiap hadits yang datang dari Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam berarti itulah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya sendiri dari aku.” 16)

D. Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah

“Janganlah engkau Taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.” 17)

Pada riwayat lain disebutkan : “Janganlah kamu taqlid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam dan para Sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima).” Kali lain dia berkata : “Yang dinamakan ittiba’ yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam dan para Sahabatnya, sedangkan yang datang dari para tabi’in boleh dipilih” 18)

“Pendapat Auza’i, Malik dan Abu Hanifah adalah Ra’yu (pikiran) bagi saya semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsar (Hadits) 19)

“Barangsiapa yang menolak Hadits Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam , dia berada di jurang kehancuran.” 20)

——————

1) Ibnu ‘Abidin dalam kitab al-Hasyiyah (I/63) dan kitab Rasmul Mufti (I/4) dari kumpulan-kumpulan tulisan Ibnu Abidin. Juga oleh Syaikh Shalih Al-Filani dalam kitab Iqazhu Al-Humam hlm 62 dan lain-lain.

2) Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab Al-Intiqa fi Fadhail Ats-Tsalasah Al-Aimmah Al-Fuqaha hlm 145, Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in, Ibnu Abidin dalam Hasyiyah Al-Bahri Ar-Raiq (VI/293) dan Rasmu Al-Mufti hal 29 dan 32

3) Ibid

4) Al-Filani dalam Kitab Al-Iqazh hlm 50

5) Ibnu Abdil Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam kitabnya Ushul Al-Ahkam (VI/149), begitu juga Al-Filani hlm 72

6) Ibnu ‘Abdul Hadi dalam kitabnya Irsyad As-Salik (I/227), Ibnu Abdil Barr dalam kitab Al-Jami’ (II/291)

7) Muqaddimah Kitab Al-Jahr Wa At-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim hlm 31-32 dan diriwayatkan secara lengkap oleh Baihaqi dalam Sunan-nya (I/81)

8] HR Hakim dengan sanad bersambung kepada imam Syafi’i, seperti tersebut dalam kitab Tarikh Damsyiq, karya Ibnu Asakir (XV/1/3). I’lam Al-Muwaqqi’in ( II/363-364), Al-Iqazh hal 100

9) Ibnul Qayyim (II/361) dan Al Filani hal 68

10) Harawi dalam kitab Dzamm al-kalam (III/47/1), Al-Khatib dalam Ihtijaj Bi Asy-Syafi’i (VIII/2) dan lain-lain

11) Nawawi dalam Al-Majmu’ Sya’rani (I/57)

12) Ucapan ini ditujukan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Adabu Asy-Syafi’i hlm 94-95. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (IX-106) dan lain-lain.

13) Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (IX/107), Al Harawi (47/1), Ibnul Qayyim dalam Al-I’lam (II/363) dan Al Filani hlm 104

14) Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi’i hlm 93

15) Ibid

16) Ibid

17) Al-Filani hlm 113 dan Ibnu Qayyim dalam al-I’lam (II/302)

18) Abu Dawud dalam masa’il Imam Ahmad hlm 276-277

19) Ibnu Abdil Barr dalam al-Jami’ (II/149)

20) Ibnul Jauzi hal 142

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s