Nasehat

Jarh Wa Ta’dil


Jarh Wa Ta’dil 1)

Oleh

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali Al Yamani Al Wushobi Al Abdali

Wahai para penuntut ilmu, kamu tidak berhak untuk menjarh dan menta’dil seseorang, baik yang kamu jarh itu adalah temanmu ataupun selainnya, sesungguhnya ilmu jarh wa ta’dil adalah fardhu kifayah dan bukan fardhu ‘ain. Artinya apabila sebagian orang telah tampil untuk memikul ilmu tersebut, maka gugurlah dosa yang lainnya.

Ilmu Jarh wa ta’dil ini merupakan tugas orang-orang yang kokoh ilmunya 2). Berhati-hatilah dari tipu daya syaithon ini yang telah mencabik-cabik umat dan antara ulama dengan umatnya. Karena orang alim apabila dia berbicara tentang seseorang dia berbicara di atas ilmu dan berbicara dengan dasar-dasar bukti yang kokoh.

Dia mengetahui kapan dia mesti berbicara dan kapan mesti diam, dan apabila dia berbicara dia tahu apa yang pantas untuk diucapkan. Adapun orang yang baru belajar atau orang awam, ketika ia berbicara dalam rangka men-jarh seseorang, tentu ini akan mengakibatkan kerusakan dan keributan. Begitu pula apabila yang memikul ilmu jarh ini orang yang bukan ahlinya.

Hendaklah para penuntut ilmu bertakwa kepada Allah Azza Wa Jalla dan tetaplah mereka dalam semangat belajar dan mengikuti ulama. Karena Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan untuk mengikuti mereka.

Sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa:59)

Ulil Amri adalah para ulama dan para pemimpin. Wajib atas orang-orang awam untuk mentaati para ulama dan begitu pula atas para penuntut ilmu tentunya dalam batas-batas Al Qur’an dan As Sunnah. Bagi penuntut ilmu, mentaati ulama lebih diutamakan daripada mentaati bapaknya. Dari itu bertakwalah kepada Allah Azza Wa Jalla wahai penuntut ilmu ! Janganlah kamu mencoreng penampilan ulama dihadapan orang awam dengan nukilan-nukilan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, penuh dengan cercaan terhadap kehormatan mereka, dan juga menjarh kaum muslimin. Kamu bukan ahlinya untuk melakukan jarh wa ta’dil, kecuali siapa yang diizinkan oleh Syaikh untuk melakukannya. Dia mengatakan bahwa fulan pantas untuk berfatwa, fulan pantas untuk berdakwah, dan fulan pantas untuk menjarh wa ta’dil.

Saya (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab-pent) mengatakan : “Demi Allah, saya sangat mengawatirkan para alim ulama kalau mereka tidak memperhatikan masalah ini dan jika mereka tidak membimbing murid-muridnya dengan menasehati mereka, sungguh saya mengkhawatirkan turunnya adzab Allah Azza Wa Jalla. Dan siapa saja dari murid-murid mereka yang tidak mau melaksanakan nasehat dan wejangan yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah hendaklah dipukul dan ditahan dari menjarh dan menta’dil serta ditahan dari berfatwa tanpa dasar ilmu dikarenakan karena mereka telah memposisikan dirinya sebagai ulama. Keadaan dirinya ditengah masyarakat adalah memberatkan dan merugikan, karena mudharat yang akan diakibatkan itu lebih besar. Apabila dibiarkan dalam keadaan seperti ini tentu akan menyebabkan terjauhnya dari kebenaran dan kerusakannya akan lebih parah dari kebaikan yang akan didapatinya.

Penuntut ilmu dilarang untuk menjarh dan menta’dil baik dalam bait-bait syair maupun dalam tulisan. Cukup bagimu mengetahui kejelekan untuk kamu tinggalkan. Adapun jika kamu menampilkan diri dalam posisi sebagai ulama dalam berbicara terkadang hal yang demikian itu menyebabkan kamu terputus dari manfaat ilmu.

——————

1)  Yang dimaksud dengan jarh adalah mensifati seorang rawi yang karena pensifatan itu riwayatnya akan lemah atau tidak bisa diterima. Sedangkan yang dimaksud dengan ta’dil adalah mensifati seorang rawi, yang karena pensifatannya tersebut riwayatnya bisa diterima ( Lihat kitab Dhowabith Al Jarh wat Ta’dil karya Dr. Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim)

2)   Ini berbeda dengan apa yang disebarkan oleh sebagian ahli bid’ah dari kalangan hizbiyin. Mereka mengatakan ilmi jarh adalah milik ulama. Kalimat ini memang benar akan tetapi yang mereka inginkan dengannya adalah kebatilan. Sisi kebatilannya yang mereka inginkan adalah agar Ahlussunnah tidak membicarakan kejelekan dan kesesatan mereka, tentu ini bertentangan dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menganjurkan mengingkari kemungkaran. Dan ucapan Hizbiyyun ini sangat berbahaya terhadap agama karena merontokkan kaidah Amar ma’ruf dan Nahi munkar serta akan memberikan kesempatan bagi syaithon-syaithon bisu.

———–

Disalin dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah “

One thought on “Jarh Wa Ta’dil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s