Nasehat

Jangan Gegabah Membuka Markaz Ilmu.!!


Gegabah dalam Membuka Markaz Ilmu

Oleh

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali Al Yamani Al Wushobi Al Abdali

Wahai penuntut ilmu janganlah gegabah dalam membuka markaz ilmu (pondok pesantren-pent). Kamu belajar disisi ulama sesaat lalu engkau berkeinginan keras untuk tampil seperti gurumu. Justru kamu dituntut untuk memantapkan ilmumu (terlebih dahulu) sebelum diizinkan oleh gurumu.

Sering kita mendengar tiba-tiba si fulan telah membuka markaz ilmu, ditempat fulan, di qabilah fulan, dia mempunyai murid yang banyak. Disekelilingnya berkumpul orang-orang dan para pemuda kemudian mereka mengatakan kepadanya : ” Wahai Syaikh…” Padahal dia seorang tholibul ilmi (penuntut ilmu). Membuka markaz ilmu memiliki syarat-syarat, yang diantaranya yaitu adanya ulama yang menjalankan roda dakwah didalam markaz tersebut, yang akan memberikan fatwa kepada manusia yang akan memutuskan dan memperbaiki segala kesulitan dan problem yang menimpa umat. Karena para ulama tersebut berada diatas petunjuk dan cahaya. Dan kalau yang membuka markaz ilmu itu adalah seorang penuntut ilmu, maka bahayanya mesti tampak jelas, cepat atau lambat. Hal ini telah diketahui oleh orang-orang yang berjalan memikul amanah dakwah ini dan mengetahui keadaan masyarakat.

Wahai penuntut ilmu, istiqomahlah dalam menuntut ilmu disisi syaikhmu. Hati-hatilah jangan sampai terputus dari menuntut ilmu dan jangan gegabah dalam membuka markaz ilmu!!

Tidak mengapa seorang penuntut ilmu meminta izin kepada Syaikhnya sebulan untuk keluar berdakwah ditengah umat, baik dibulan Ramadhan ataupun selainnya. Kamu berkata kepada syaikhmu: “Ya Syaikh, apakah saya pantas untuk mengimami kaum muslimin dalam sholat tarawih dan meyampaikan kepada mereka beberapa kalimat yang saya bisa ?” kalau dia menyatakan boleh, maka lakukanlah. Kamu keluar berdakwah sebulan , atau setengah bulan, atau dua puluh hari, kemudian kembali. Janganlah kamu memutuskan diri dari bapakmu (Syaikhmu), karena orang alim termasuk bapakmu. Kecuali Syaikh tersebut telah melihat dirimu pantas untuk membuka markaz ilmu, dan tentunya seorang guru itu mengetahui kemampuan murid-muridnya.

Saya (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab-pent) mengatakan : ” Saya nasihatkan kepada para masyaikh untuk memilih murid yang pantas dan patut (untuk berdakwa-pent) dengan tidak tergesa-gesa.. Tidak mengapa seorang syaikh berkata kepada muridnya : ” pergilah kamu ke tempat fulan, ajarkanlah mereka kitabullah dan sunnah Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam dengan batas waktu tiga bulan, empat bulan atau enam bulan. Kalau kamu telah selesai kembalilah ke markaz.” Dan hendaknya dia juga mengingatkan: Hati-hati kamu dari berfatwa tanpa ilmu, kecuali bila kamu telah mengetahui jawabannya yang benar. Dan apa-apa yang menyulitkan dirimu, angkatlah permasalahannya kepada kita (para ulama), tulis surat, lalu kirimkanlah; dan berhati-hatilah dari berfatwa tanpa didasari ilmu.”

Seseorang yang membuka markaz ilmu dengan tanpa izin dari syaikh termasuk perampok, memutuskan jalan antara pemuda dengan ulama, dan majelis ulama. Dia mengatakan : ” Kenapa kamu pergi? Padahal markaz ilmu disamping rumahmu? ” atau dia tidak mengucapkan demikian akan tetapi itulah yang diisyaratkan dengan membuka markaz ilmu tersebut padahal orang tersebut ingin berangkat ke markaz alim fulan. Berdasarkan inilah dia dikatakan sebagai perampok dan sebagai penyebab orang-orang mengentengkan ilmu.

———————–

Disalin dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s