Nasehat

Berfatwa


Berfatwa

oleh

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali Al Yamani Al Wushobi Al Abdali

Wahai penuntut ilmu! tergesa-gesa dalam berfatwa bukanlah perkara ringan. Tidak setiap orang berhak untuk berfatwa, tentunya hal ini akan menimbulkan keributan. Berfatwa adalah haknya ahlu ilmi dan Ulama yang telah kokoh ilmunya. Adapun jika penuntut ilmu berdiri di sebuah masjid memberikan wejangan kemudian setelah itu ia berkata: “Siapa yang memiliki pertanyaan maka insya Allah kita akan menjawabnya setelah shalat isya’.” Tidakkah kamu mengetahui bahwa yang demikian ini termasuk dari kerendahan dan termasuk merampas haknya Ulama?! Padahal dia belum mendapatkan izin dari syaikhnya untuk berfatwa.

Adapun jika dia penuntut ilmu yang telah kokoh di dalam ilmunya, termasuk orang-orang yang berhasil serta diizinkan oleh syaikhnya untuk berfatwa tentu berbeda hukumnya.

Hendaklah para penuntut ilmu selalu bertaqwa kepada Allah dan hendaklah ia mengetahui bahwa permasalahan berfatwa bukanlah masalah sepele.

Allah Berfirman :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Maka Tanyakanlah olehmu kepada ahlu dzikr, jika kamu tiada mengetahui.” ( Al Anbiyaa’ : 7 )

Ahlu dzikri yang dimaksud adalah ahlul ilmi dalam agama. Ingatlah bahwa salafus sholeh menolak untuk berfatwa dan selalu menyerahkan kepada temannya yang lain (ketika dimintai fatwa- pen) karena mereka takut kepada Allah .

Seseorang datang bertanya kepada salah seorang mereka, dia (yang ditanya-red) mengisyara­tkan kepada orang lain, yang lain mengisyaratkan kepada yang lainnya, demikianlah seterusnya. Karena setiap mereka takut untuk berfatwa dengan tanpa dasar ilmu.

Allah berfirman :

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” ( Al Israa’ : 36)

Allah Berfirman :

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” ( An Nahl : 116-117 )

Allah Berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”( Al A’raf : 33 )

(Dari ini semuanya) diketahui bahwa berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu termasuk dari dosa besar. Ibnu Mas’ud berkata di dalam Mukadimah Ad Darimy: “Barangsiapa yang berfatwa dalam semua permasalahan (yang diajukan kepadanya-ed) maka dia adalah orang gila.”

Kalian mengetahui cerita seseorang yang datang kepada Imam Malik, dia datang dari tempat yang sangat jauh dengan membawa 40 pertanyaan yang akan diajukan kepada Imam Mallik, dan beliau hanya menjawab 3 pertanyaan. Apa perbandinganmu dengan Imam Malik, yang Orang-orang telah datang kepada beliau dari segala penjuru. Orang tersebut mengatakan: Aku datang membawa 40 pertanyaan lalu engkau hanya menjawab tiga pertanyaan?.” Maka Imam Malik berkata: “Naiklah kamu ke atas gunung es tersebut, dan katakan kepada khala­yak ramai: “Aku datang kepada Imam Malik membawa empat puluh pertanyaan tapi ia hanya menjawab tiga pertanyaan.”

Seorang penuntut ilmu yang memberanikan diri untuk berfatwa termasuk mempunyai adab yang jelek dan tidak memiliki rasa takut kepad Allah. Tidak ada yang berhak untuk berfatwa melainkan orang alim dan orang yang diberikan izin oleh ahlu Ilmi untuk berfatwa setelah diuji. Dan kalau sudah diberi idzin maka tidak boleh baginya untuk mengelak dengan mengatakan “Aku bukan orang alim.”

Cara terbaik bagi penuntut ilmu adalah mengarahkan kepada orang alim dengan mem beritahukan nomor telponnya. Jika pertanyaannya semakin banyak dia bisa mengisyaratkan kepada kitab orang alim atau kaset mereka. Dan kalau dia menemukan ucapan orang alim di dalam sebuah kitab tidak mengapa dia menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan “Syaikh fulan mengatakan demikian dalam kitab ini, dan sebagainya.”

Seorang penuntut ilmu telah berani berfatwa di saat ulama masih hidup, lalu bagaimana kalau mereka (para ulama-red) telah tiada ?

Rasulullah bersabda:

إن الله لايقبض العلم إنتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما إتخذ الناس رؤوسا جها لا فسأ لوا فأ فتوا بغير علم فأ ضلوا وأضلوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut Ilmu dengan mencabutnya dari setiap hamba, akan tetapi Dia mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, sehingga Allah tidak menyisakan seorang alimpun, lalu manusia menjadikan orang-orang jahil menjadi pemimpin mereka. Mereka ditanya kemudian mereka berfatwa tanpa dasar ilmu sehingga sesat dan menyesatkan. (HR Bukhari Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al Ash )

————-

Disalin dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s