Nasehat

Jauhi Maksiat


Meninggalkan Perbuatan Maksiat

Oleh

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali Al Yamani Al Wushobi Al Abdali

Wahai para penuntut ilmu tinggalkan perbuatan maksiat ! terkadang maksiat itu menyebabkan kegelapan di dalam hatimu. Kegelapan di dalam kubur, kegelapan pada wajah, dan kegelapan dalam kehidupan yang penuh tipu muslihat dan kesempitan 3).

Kemaksiatan adalah salah satu perangkap syaithon terhadap orang-orang yang beriman.
dengannya syaithon akan memerangi orang­-orang yang beriman, karena syaithon mengetahui bahwa barangsiapa yang bermaksiat, maka dia sesat :

وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى

Artinya : Maka Adam bermaksiat kepada Rabbnya lalu menjadi sesat.” (QS. Toha: 121)

Barangsiapa yang bermaksiat maka sungguh dia telah mendapatkan kesempitan hidup dan barangsiapa yang bermaksiat maka ia sungguh telah menyerahkan dirinya kepada ancaman Rabbnya, di waktu sekarang ataupun yang akan datang.

Berhati-hatilah kamu dari perbuatan maksiat. Takutlah kamu darinya melebihi rasa takutmu dari ular dan setruman listrik. Betapa banyak yang hatinya telah kelam karena perbuatan maksiat hingga tidak sanggup untuk menghafal, tidak sanggup untuk membaca, tidak menemukan kelezatan dalam bacaan, hafalan, dan shalat jamaahnya. Kegelapan di dalam hatinya yang telah menghalangi dirinya dari keinginan­-keinginan baiknya.

Apabila kamu berbuat maksiat maka kamu telah menolong syaithon untuk menghakimi dirimu, maka dari itu istiqomahlah kamu 4), sebagaimana firman Allah :

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. “ ( QS. Huud : 112 )

Kokohkan dirimu!! Berpeganglah dengan Al Qur’an dan As Sunnah beramallah dengan apa yang telah kamu ketahui sampai Allah mem­berkahi ilmumu, amalanmu, umurmu, ucapan­mu, dan perbuatan-perbuatanmu. Imam Syafi’i mengatakan:

Aku mengeluh kepada Waqi’ tentang jeleknya hafalanku

Maka beliau membimbingku untuk meninggalkan Maksiat-maksiat

Beliau berkata: “Ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya

Dan cahaya ilmu tidak akan diberikan kepada pelaku kemaksiatan.”

Betapa banyak manusia telah berusaha untuk menuntut ilmu dan berusaha untuk menghafal, akan tetapi dia tidak sanggup, tidak lain penyebabnya adalah perbuatan maksiat. Ketaatan adalah cahaya yang menerangi hati sebagaimana maksiat adalah kegelapan yang akan menghitamkan hati. Kita berlindung kepada Allah darinya.

Oleh karena itu menjauhlah dari perbuatan maksiat dan perbanyaklah istighfar dan meminta ampun kepada Allah semoga Allah memaafkan dirimu. Perbanyaklah doa dan ketundukan kepada Allah agar Dia memberikanmu keko­kohan di dalam agamaNya, kitabNya, dan Sunnah RasulNya. Lihatlah kitab Al jawabu Al Kaafi Liman Sa’ala ‘An Ad Dawa’ As Syaafi karya Ibnul Qoyyim, dan lihatlah betapa banyak bahaya-bahaya dari perbuatan maksiat.

—————————-

3) Ibnu Abil Izzi AI Hanafi mengatakan: “Karena dosa akan melahirkan dosa baru (Syarh Aqidah Thahawiyah hal 440). Ibnul Qoyyim mengatakan: “Sesungguhnya dosa-dosa dan perbuatan maksiat membahayakan pelakunya dan tidak ada keraguan lagi bahwa bahayanya terhadap hati manusia bagaikan bahaya racun terhadap badan seseorang, tentunya sesuai dengan perbedaan tingkat dosa tersebut. Dan tidak ada malapetaka di dunia dan di akhirat melainkan karena dosa dan kemaksiatan.” (Lihat Jawabul Kaafi hal 37)

4) Imam Nawawi berkata: “Para ulama berkata: “Makna istiqomah adalah: Terus menerus dalam ketaatan kepada Allah (lihat Riyadhus Shalihin).

Ibnul Qayyim mengatakan: “AI istiqomah adalah beribadah kepada Allah dengan hakikat kejujuran dan memenuhi semua janji.” (Madarijus Salikin 2/105).

Abu Bakar mengatakan ketika beliau ditanya tentang istiqomah: “Kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.

Umar bin Khattab mengatakan: “Istiqomah adalah kekokohan dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dan tidak menengok (ke kanan dan ke kin) bagaikan srigala.” Utsman berkata: “Mereka istiqomah, artinya mengikhlaskan din untuk Allah.”

Ali berkata: “Menunaikan kewajiban-kewajiban.” (lihat Madarijus Salikin 2/104)

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Perumpamaan istiqomah terhadap kondisi dan keadaan sekarang bagaikan ruh dengan jasad. Sebagaimana badan apabila terlepas dari ruh akan menjadi bangkai, begitu juga keadaan sekarang apabila terlepas dari istiqomah akan menjadi rusak.” (lihat Madarijus Salikin 2/106)

As Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: ‘Tatkala Allah memberitakan akan terjadinya ikhtilaf dan perpecahan di kalangan mereka (Ahli kitab), Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya dan orang-orang yang beriman agar mereka tetap kokoh di atas perintah-perintah Allah dan menempuh apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah. Mereka berkeyakinan dengan akidah yang shahih apa yang telah diberita­kanNya dan jangan mereka menyeleweng dari yang demikian itu, baik ke kanan atau ke kiri dan agar mereka terus berada di atasnya dan tidak melampaui batas yang telah ditentukan oleh Allah. (hal 347)

Di dalam Mukadimah tafsirya, beliau mengatakan: “Istiqomah adalah selalu berada di atas ketaatan kepada Allah dan kepada Sunnah Rasulullah (hal 14)


—————————–

Disalin dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s