Nasehat

Ikhlaslah..!!


Ikhlas, Berniat Hanya untuk Allah Azza Wa Jalla

Oleh

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali Al Yamani Al Wushobi Al Abdali

Maksudnya adalah mengikhlaskan amal dan niat hanya untuk Allah Azza Wa Jalla. Engkau wahai penuntut ilmu dalam menuntut ilmu, sungguh kita semua sangat butuh keikhlasan, yaitu engkau berharap dengan ilmumu wajah Allah Azza Wa Jalla, engkau berharap dengan amal-amalmu, ibadah-ibadahmu, dan dakwahmu wajah Allah Azza Wa Jalla.

Allah Azza Wa Jalla berfirman :

َ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّين

” Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan bagiNya agama.” ( QS. Al Bayyinah : 5 )

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, Maka hendaklah dia beramal shalih dan jangan menyekutukan dalam peribadatan kepada-Nya dengan seorangpun”. ( Al Kahfi : 110 )

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى. فمَنْ كانت هجرته إِلَى اللَّه ورسوله فهجرته إِلَى اللَّه ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إِلَى ما هاجر إليه (رواه البخاري ومسلم عن عمر بن الخطاب

Sesungguhnya ( sah atau tidaknya ) amalan-amalan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang akan didapatkannya atau wanita yang akan dinikahinya maka dia telah berhijrah kepada apa yang dia niatkan. “ (HR Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab )

Dan kalian mengetahui hadits Abu Hurairah , yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yaitu tentang tiga orang yang pertama kali dinyalakan bagi mereka api neraka -semoga Allah Azza Wa Jalla melindungi kita dari neraka- mereka itu sebagaimana telah kalian ketahui adalah seorang yang berilmu tetapi tidak mengharapkan wajah Allah Azza Wa Jalla , dengan ilmunya, demikian juga seorang yang membaca Al Quran akan tetapi dia tidak mengharapkan wajah Allah Azza Wa Jalla, dengan bacaannya, masuk dalam makna hadits ini juga seorang yang menuntut ilmu tetapi tidak mengharapkan wajah Allah Azza Wa Jalla dengannya. Dan seorang yang berjihad di jalan Allah Azza Wa Jalla yang dia tidak berharap wajah Allah Azza Wa Jalla dalam jihadnya, demikian juga seorang yang menginfakkan hartanya tetapi dia tidak mengharapkan wajah Allah Azza Wa Jalla, dengan infaknya tersebut.

Merekalah orang-orang yang pertama kali dinyalakan baginya neraka dan digiring dengan kepala menghadap kebawah lalu dilemparkan ke dalam neraka. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pada mereka (orang yang menuntut ilmu, menginfakan hartanya, dan berjihad di jalan Allah Azza Wa Jalla dalam hadits ini) keikhlasan.

Memang secara lahiriyah (amal mereka) adalah amalan shalih, akan tetapi disyaratkan amalan lahiriyah tersebut agar terpenuhi syarat-syarat batiniyah, itulah keikhlasan kepada Allah Azza Wa Jalla dan ini yang belum sempurna. Oleh karena itulah mereka menjadi orang yang pertama kali masuk ke dalam neraka dengan cara ditelungkupkan (diseret) di atas wajah-wajah mereka. Semoga Allah Azza Wa Jalla melindungi kita darinya.

Wahai penuntut ilmu, jika engkau menginginkan Allah Azza Wa Jalla memberikanmu manfaat di dunia dan akhirat maka ikhlaskanlah niatmu karena Allah Azza Wa Jalla di dalam menuntut ilmu.

Al Imam Bukhari ketika beliau menulis kitab Al Jami’us Shahih beliau memulai dengan kitab Bad-u Al Wahyu (Permulaan Wahyu Turun) dan beliau memulai dengan hadits: “Innamal a’maalu binniyat” untuk mengingatkan kepada para penuntut ilmu dan ulama agar mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah Azza Wa Jalla Karena sebuah amalan yang tidak diiringi dengan niat ikhlas karena Allah Azza Wa Jalla akan ditolak olehNya.

Begitu juga dengan apa yang telah dilakukan oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya Riyadhus Shalihin, Al Adzkar, dan Al ‘Arbain An Nawawi,beliau memulai dengan hadits: “Innamal a’maalu bin niyat wainnamaa likullimri in maa nawaa”. Begitu juga apa yang telah dilakukan oleh Al Maqdisi di dalam kitabnya Umdatul Ahkam, beliau memulai dengan hadits Umar bin Al Khattab: “Innamal a’ maalu binniyaat”. Begitu juga yang dilakukan oleh Al Baihany dalam kitab Islah Al Mujtama’, beliau memulai dengan hadits: “Innamal a’maalu bin niyat” dan selain mereka dari kalangan para ulama. Semua ini mengingatkan kepada para penuntut ilmu yang telah diberikan taufiq di jalan-Nya agar mengikhlaskan seluruh amalan hanya untuk-Nya.

Allah Azza Wa Jalla telah berfirman dalam hadits qudsi, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shahih beliau dari shahabat Abu Hurairah Rasulullah bersabda, Allah Azza Wa Jalla berfirman:

أناأغنىالشركاءعن الشرك من عمل عملا أشرك معي غيري تركته وشركه

ِ” Aku (Allah Azza Wa Jalla) tidak butuh kepada sekutu-sekutu dari kesyirikan, maka barangsiapa yang melakukan sebuah amal, yang dengan amalan tersebut ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan perbuatan syiriknya. “

Berhati-hatilah kamu dari sifat riya’ (pamer) dan Sum’ah 1) (memperdengarkan amalan karena ingin dipuji) dan cinta popularitas.

Carilah dengan amalanmu wajah Allah Azza Wa Jalla dan jika engkau telah mengikhlaskan niat untuk Allah Azza Wa Jalla , maka bergembiralah dengan diterimanya amalanmu dan juga bergembiralah dengan pahala yang besar. Jika engkau tidak mengikhlaskan niat untuk Allah Azza Wa Jalla, kalaupun engkau menginfakan emas sebesar Gunung Uhud, tapi dengan landasan riya’ (ingin pamer) atau sum’ah, niscaya Allah Azza Wa Jalla akan menjadikannya sia-sia bagaikan debu yang beterbangan.

Demikianlah seperti apa yang telah digambarkan oleh Allah Azza Wa Jalla di dalam firmanNya:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami menampakkan apa yang telah mereka lakukan dari amalan, dan Kami jadikan amalan itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” ( Al Furqon : 23 )

Dan jika engkau berinfak walaupun hanya dengan setengah korma namun engkau lakukan hanya karena mengharap wajah Allah Azza Wa Jalla maka akan dibalas oleh-Nya pada hari kiamat sebesar Gunung Uhud. Amalan yang sedikit jika disertai dengan niat yang ikhlas menjadi besar di sisi Allah Azza Wa Jalla dan amalan yang banyak tanpa disertai niat yang ikhlas tidak akan bernilai, bahkan akan menjadi debu yang beterbangan.

Inilah wasiat (nasihat) yang pertama bagi penuntut ilmu, bagi orang ‘alim, da’i kepada Allah Azza Wa Jalla dan bagi setiap muslim. Dan kita meminta kepada Allah Azza Wa Jalla agar memberikan kepada kita rizki keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan.


———-

1) Ibnul Qoyyim berkata di dalam kitab Al Fawaid hal 166: “Tidak akan berkumpul antara keikhlasan dengan cinta pujian, sanjungan, clan kerakusan terhadap apa yang di tangan manusia. Sebagimana tidak akan mungkin akan berkumpul api dengan air serta biawak dengan ikan-ikan”.

Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih AI Utsaimin air, berkata: “Riya’ adalah menyembah Allah Azza Wa Jalla agar dilihat oleh manusia lalu berharap pujian mereka.”

Sum’ah adalah beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan tujuan memperdengarkannya kepada orang dengan mengharap pujian mereka. (Qaulul Mufid 1/145 )

——————————————————————————————–

Disalin dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah “

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s